Belajar Menjadi Relawan Lingkungan dari SIPESAT

Belajar Menjadi Relawan Lingkungan dari SIPESAT

21 November 2021

Sistem Pengolahan & Pengelolaan Sampah Terpadu atau yang lebih dikenal dengan SIPESAT merupakan sistem pengolahan sampah zero waste. Adalah bapak Singgih Lelono, sosok inspiratif di balik SIPESAT. Beliau memulai program ini sudah sejak tahun 2002. Saat itu, beliau gelisah melihat permasalahan sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Saya waktu itu berpikir, gimana caranya sampah bisa terselesaikan dari sumbernya atau dari rumah tangga. Sehingga TPA di seluruh Indonesia tidak menumpuk oleh sampah,” ungkap pak Singgih. Awalnya, beliau menggunakan crusher machine untuk mencacah dan menghancurkan sampah.

 

Perjalanan Awal SIPESAT

Tahun berikutnya, crusher machine tersebut dipakai di Brebes dan berhasil mereduksi sampah dari 100% hanya menjadi 20% saja, dengan syarat tidak boleh terlalu banyak sampah non-organic yang masuk. Bahkan sisa 20% sampah itu masih bisa bermanfaat untuk composting sehingga hasilnya benar-benar zero waste.

Pada 2004, beliau melakukan uji coba di daerah lain, yaitu Cirebon. Dua tahun berikutnya uji coba dilakukan di daerah Depok. “Saya mendapatkan banyak dukungan di Depok. Kami melakukan banyak diskusi dengan ahli rekayasa pangan terkait desain produk dan penyempurnaan sistem. Dana yang digunakan juga urunan dari kami tanpa menggunakan uang Pemda sepeserpun,” cerita pak Singgih.

Saat itu, uji coba berlangsung di depan para Ahli Biologi Universitas Indonesia, juga turut hadir perwakilan dari World Bank serta Dekan Teknik Lingkungan Universitas Indonesia. Hasilnya, pengolahan sampah sukses menjadi zero waste dan tidak berbau. “Bau sampah itu kan karena ada proses anaerob. Tapi kalau terbuka kan jadi enggak bau karena banyak oksigen,” kata pak Singgih.

Pak Singgih SIPESAT

Tahun-tahun berikutnya pak Singgih giat melakukan uji coba di beberapa daerah lain di Indonesia. Sampai pada tahun 2014 beliau berangkat ke Osaki, Jepang untuk melakukan studi banding sekaligus menjalani pelatihan terkait pengolahan sampah. Kurang lebih selama 2 minggu di kota tersebut beliau mendapatkan banyak pelajaran berharga.

“Kantor TPS di sana bagus sekali. Setiap akhir pekan, warga Jepang datang ke TPS membawa sampah-sampah yang sudah mereka pilah di rumah. Bahkan, truk pengangkut sampahnya pun berbeda per kategori. Truk sampah keramik sendiri, truk sampah kaleng sendiri, truk sampah baju sendiri, masing-masing truk mengangkut sampah yang berbeda,” ujar pak Singgih dengan decak kagum.

Bersama profesor pembimbing di sana, pak Singgih pergi ke sekolah-sekolah dan kantor di Osaki untuk melihat bagaimana mereka memperlakukan sampah. Sekolah dan kantor di Jepang tidak lagi menggunakan peralatan plastik sekali pakai. Mereka memiliki peralatan makan sendiri yang bisa dipakai berulang layaknya di rumah. Sampah sisa makanan bahkan mereka olah sendiri sehingga benar-benar zero waste.

Keranjang SIPESAT

 

Perkembangan SIPESAT

Mendapat sumber inspirasi baru, hal inilah yang pak Singgih coba terapkan di sekolah-sekolah di Indonesia. “Sekarang baru SMP Negeri 154 sama di SMP Negeri 3 yang sudah kami bantu untuk pengolahan sampah zero waste. Istri yang saat itu menjadi guru di SMP 154 juga ikut membantu saya untuk menggalakkan sistem ini,” ucap pak Singgih.

Lebih lanjut, istri pak Singgih, Ibu Ristantini berkata,”Kalau saya, karena bergerak di bidang pendidikan melihat, cara kita memperlakukan sampah ini bisa menjadi character building para siswa. Mereka yang sudah punya habit untuk membuang sampah sesuai kategori dan tidak menggunakan plastik sekali pakai akan menularkan kebiasaan ini kepada orang lain.”

“Bahkan ada murid saya yang sudah lulus dan melanjutkan ke SMA sampai chat ke saya karena di sekolah barunya itu ia kebingungan tempat sampahnya tidak ada pemilahan sebagaimana seperti yang SIPESAT ajarkan sewaktu ia masih di SMP dulu. Melihat ada anak didik saya yang sampai seperti itu merupakan sebuah kebahagiaan bagi saya sebagai guru” kenang bu Ris.

Proses Pembakaran

Saat ini, SIPESAT telah jauh berkembang dengan teknologi terbaru, yakni mini heater dengan daya hanya 360 watt. Ke depannya, pak Singgih dengan bu Ris berencana untuk menerapkan pengolahan sampah ini di sekolah-sekolah lain hingga ke seluruh Indonesia. “Saya percaya Indonesia bisa. Jika seluruh sekolah, institusi juga dukungan dari pemerintah tergerak untuk menjalankan sistem ini, InsyaAllah problem sampah di Indonesia dapat teratasi. Anak cucu kita juga bisa menikmati lingkungan yang lebih asri,” ungkap pak Singgih.

 

Human Initiative dan Kontribusinya untuk Lingkungan

Bank Sampah Binaan Human Initiative

Sama halnya seperti Human Initiative bersama PT. Tirta Investama – Plant Sentul yang mendirikan Bank Sampah skala Desa yang beroperasi di RT 01 dan RT 02 RW 07, Desa Leuwinutug, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.

Bank Sampah ini hadir sebagai solusi menyelesaikan permasalahan sampah plastik di Indonesia melalui gerakan #BijakBerplastik. Komitmen tersebut sejalan dengan misi pemerintah Indonesia untuk mengurangi sampah laut hingga 70 persen pada tahun 2025.

Sahabat Inisiator, dari aksi kemanusiaan di atas kita dapat belajar bahwa menjadi relawan merupakan perjalanan panjang. Mereka tidak menyerah demi cita-citanya untuk membuat lingkungan lebih asri. Sahabat Inisiator juga bisa ambil bagian untuk lingkungan dengan menjadi relawan Human Initiative loh. Yuk, kunjungi HIVE dan berikan kontribusi terbaikmu.

Sahabat Inisiator Butuh Bantuan?

Telp/Whatsapp

+62-811-9342-667