Setiap Hari Anak-anak Wae Kuse Bertaruh Nyawa Demi Bisa Bersekolah, Yasmin Napper Turun Langsung Menyaksikan

8 Agustus 2026
Setiap Hari Anak-anak Wae Kuse Bertaruh Nyawa Demi Bisa Bersekolah, Yasmin Napper Turun Langsung Menyaksikan

Di balik keindahan bentang alam Flores, terdapat satu daerah bernama Wae Kuse, kawasan pertanian di Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 87 kepala keluarga atau sekitar 467 jiwa menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian. SD Negeri Wae Kuse menjadi tempat belajar anak-anak dari lima kampung, yaitu Kedungu, Damot, Tadobara, Wongkol Randang, dan Tado Kawu. Namun, masyarakat masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dan akses air bersih yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari.

Karena kondisi tersebut, Yasmin Napper bersama Human Initiative mengunjungi Wae Kuse untuk melihat langsung kebutuhan masyarakat. Kunjungan ini menjadi bagian dari Wae Kuse Project. Selanjutnya, Human Initiative menyusun langkah kolaboratif bersama masyarakat untuk membangun Jembatan Wae Kuse dan memperluas akses air bersih. Program ini bertujuan mendukung kegiatan belajar sekaligus aktivitas masyarakat.

Jembatan Wae Kuse, Akses Utama Menuju Sekolah

Perjalanan menuju SD Negeri Wae Kuse memperlihatkan tantangan yang dihadapi siswa, guru, dan masyarakat setiap hari. Kendaraan hanya dapat berhenti di atas bukit. Setelah itu, Yasmin bersama tim Human Initiative berjalan kaki menuruni lereng menuju sungai. Mereka kemudian menyeberangi jembatan sederhana yang tersusun dari batang kayu dan bambu yang dipaku seadanya. Jembatan itu menjadi satu-satunya akses menuju sekolah dan lahan pertanian. Saat musim hujan, sungai sering meluap. Akibatnya, warga tidak dapat menyeberang dan kegiatan belajar mengajar ikut terhenti. Selain itu, arus sungai kerap merusak jembatan. Karena itu, warga memperbaikinya hampir setiap dua bulan agar tetap dapat digunakan.

Saat meninjau jembatan, Yasmin berbincang dengan anak-anak mengenai pengalaman mereka berangkat ke sekolah. Dari percakapan itu, ia mengetahui bahwa salah seorang siswa pernah terjatuh saat melintasi jembatan.

“Tadi saya sempat tanya lagi ke adik-adik di sini. Mereka cerita ada teman mereka yang pernah jatuh saat melewati jembatan ini. Jadi memang kondisi jembatan ini sangat tidak layak untuk menjadi jalan utama warga Desa, baik untuk anak-anak berangkat sekolah, guru-guru berangkat mengajar, maupun masyarakat yang setiap hari mencari nafkah,” ujar Yasmin Napper.

Setelah meninjau jembatan, Yasmin mengunjungi SD Negeri Wae Kuse. Kepala dusun, tokoh adat, guru, orang tua, dan para siswa menyambut kedatangannya dengan tarian khas Nusa Tenggara Timur. Selanjutnya, Yasmin mencoba tarian bambu bersama para siswa. Ia juga berdialog dengan para guru dan mengajar sebagai guru tamu. Sementara itu, Human Initiative memetakan kebutuhan sekolah, termasuk akses air bersih. Hingga kini, siswa masih membawa air dari sungai untuk memenuhi kebutuhan MCK.

Setiap kolaborasi membuka peluang untuk memperluas manfaat. Bersama, kita dapat mendukung akses pendidikan yang lebih aman sekaligus membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Wae Kuse.

Oleh sebab itu, kunjungan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat akses pendidikan sekaligus mendukung kebutuhan dasar masyarakat Wae Kuse. Mari ambil bagian dalam kolaborasi kebaikan bersama Human Initiative melalui solusipeduli.org. Dukungan Anda dapat membantu pembangunan Jembatan Wae Kuse dan penyediaan akses air bersih bagi masyarakat.

0

Sahabat Inisiator Butuh Bantuan?

Telp/Whatsapp

+62-812-8080-4561