Meski lima kali tanah galodo menerjang rumah Kakek Tohar yang kini berusia 70 tahun di Sumatra Barat, ia tetap memilih bertahan. Rumah turun temurun yang dihuni hingga tiga generasi itu ia bersihkan berkali kali bersama anggota keluarga. Mereka bahkan bergotong royong menutup tembok belakang yang menganga dengan karung berisi pasir dari material galodo. Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal tetapi saksi sejarah keluarga dan ruang di mana Kakek Tohar menanam cinta dan kebersamaan.
Di sebelah rumahnya, rumah sang adik masih tertimbun lumpur dan tanah yang mengeras. Tanah menumpuk hingga setengah ruang keluarga dan hampir mencapai plafon. Membersihkan rumah itu memerlukan waktu, tenaga, dan dukungan. Setiap langkah menjadi bagian dari ikhtiarnya menjaga rumah pusaka agar tetap layak dan aman untuk keluarga.
Setiap hujan turun, rasa takut kembali muncul. Namun Kakek Tohar tetap bersyukur karena seluruh keluarganya selamat dari bencana yang terjadi di Nagari Muaor Pingai. Ia memelihara harapan untuk tinggal dengan aman sambil memulihkan rumah yang menyimpan banyak kenangan. Setiap tetes keringat dan usaha kerja menjadi doa dan wujud cinta pada tanah dan keluarga.
Kisah Kakek Tohar mencerminkan ikhtiar banyak warga terdampak bencana di Sumatra Barat. Mereka membersihkan lingkungan, menata kembali rumah, dan melanjutkan hidup dengan kemampuan yang ada. Dalam situasi seperti ini, kebersamaan membantu setiap langkah terasa lebih ringan.
Kebersamaan memberi makna pada setiap perjalanan. Saat banyak pihak bergerak bersama, jarak terasa lebih dekat dan beban terbagi. Dari kebersamaan itu, tumbuh kekuatan untuk terus melangkah, saling mendukung, dan menjaga harapan.
Dalam upaya bersama tersebut, Human Initiative mendukung masyarakat terdampak melalui respons darurat dan pemulihan sesuai kebutuhan lapangan. Mari memperluas kolaborasi kebaikan melalui solusipeduli.org, agar keluarga seperti Kakek Tohar dapat melanjutkan hidup dengan lebih aman dan tenang.
