Dari Kebersamaan Menghadirkan Konsistensi Menjalankan Program Pemberdayaan Ternak Kambing

Dari Kebersamaan Menghadirkan Konsistensi Menjalankan Program Pemberdayaan Ternak Kambing

18 Juli 2021

Gunung Kidul – Di mata sebagian orang, merawat konsistensi itu mungkin terasa sulit. Baik itu menjalani kehidupan sehari-hari maupun segala bentuk kerja sama dengan orang lain.

Tapi tidak untuk 20 orang Dusun Singkil, Kalurahan Giring, Kecamatan Kapanewon, Kabupaten Gunung Kidul. Mereka bisa membuktikan, kalau konsisten itu penerapannya mudah, asal dapat melakukannya secara bersama.

Sebanyak 20 orang tersebut menerapkannya di dalam Program Pemberdayaan Ternak Kambing. Salah satu program pemberdayaan yang diinisiasi oleh Human Initiative Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Seluruh anggota itu menyatakan komitmen mereka untuk bisa menjalankan program yang berasal dari dana zakat ini.

Kebersamaan Menghadirkan Program Pemberdayaan Ternak Kambing

“Langkah awal pada 2014, kami melakukan social mapping dan mengajak warga untuk terlibat. Dari awal pula, kami mengingatkan mereka untuk bisa aktif dalam program ini. Jika tidak maka program ini takkan berjalan lancar,” ucap Agus Triyono selaku Kepala Cabang Human Initiative DIY, mengawali cerita.

“Dari berbagai program pemberdayaan, kuncinya memang partisipasi anggota. Kalau anggota tak ada peran aktifnya, maka program tersebut akan cepat bubar dan takkan bisa suistanable. Keberlanjutannya itu dipertanyakan,” sambungnya.

Menariknya, usai memaparkan pemetaan rencana dan pemetaan potensi, warga yang tertarik mayoritas dari orang yang sudah berusia senja.

“Mereka yang mengikuti program ini usianya sudah di atas 30 tahun semua. Bahkan ada yang di atas 50 tahun, kendati demikian, semangat mereka itu yang menjadi kunci,” tutur Agus.

Akhirnya dapat ditentukan ternak kambing menjadi satu hal potensi yang dikembangkan. Sebab di daerah Gunung Kidul, mayoritas setiap rumah punya hewan ternak. Alasannya, mereka beternak kambing itu sebagai ‘celengan’ atau tabungan.

Cara ini ternyata cukup efektif, mengingat di daerah tersebut sering kekeringan. Siasatnya, mereka tinggal menjual kambing untuk membeli kebutuhan, seperti air bersih atau kebutuhan lainnya. Sebab kekeringan bisa membuat mayoritas warga di sana yang usahanya mengandalkan air, bakal kesulitan mendapatkan penghasilan. Akibat gagal panen.

“Potensi ini yang coba kami angkat, karena warganya juga profesinya hanya menjadi petani yang mengandalkan air hujan. Nah kemudian juga  mereka punya kemampuan untuk beternak walaupun kecil-kecilan. Nah ini juga yang kami gali, sehingga hasil dari social mapping itu kami menemukan akar masalahnya apa saja dan ternyata perlu pembenahan dari segi ekonomi dan ternak ini menjadi salah satu potensi yang kami kuatkan,” jelas Agus.

Saat membeli kambing, tim Human Initiative tetap melibatkan kelompok ternak tersebut untuk bisa memilih kambing sesuai keinginan mereka.

“Kami juga menggandeng beberapa dinas terkait untuk mendampingi, seperti mendaftarkan mereka ke Dinas Pertanian dan Peternakan. Kemudian untuk kambing ini sendiri fokusnya di peranakan, nah mereka kami ajak belanja ke pasar kira-kira kambing yang sudah siap untuk berproduksi itu yang mana, di situ kami melibatkan mereka,” terang Agus.

Perputaran Dana 

Bagi kami yang berada di Yogyakarta, program ini menjadi yang unik juga. Sebab uang untuk kelompok, dan pada akhirnya kemudian kelompok itu juga yang mengelola. Orang-orang yang mendapatkan kambing itu, mereka wajib mengembalikan uang senilai kambing yang mereka beli.

“Misalkan harga kambing Rp1,25 juta, maka mereka punya kewajiban mengembalikan uang yang sama nilainya. Dan itu sudah ada aturannya dalam ADRT tiap bulan mereka harus mengembalikan berapa (Rp50 ribu per bulannya),” kata Agus.

Menariknya, meski uang tersebut dipinjamkan, para anggota tak dikenakan bunga apapun dalam pengembalian modal. Meski mereka berinisiatif memberi tambahan, itu hanyalah bersifat infaq. Sehingga hasil infaq tersebut tidak menjadi Riba, dan tim Human Initiative juga mengusulkan adanya perputaran uang.

Dalam artian, uang infaq tersebut bukan hanya menutup uang pinjaman dari Human Initiative, melainkan juga bisa membuat para anggota membeli kambing lagi. Dan hebatnya, uang tersebut bisa membelikan kambing kepada warga lain.

“Alhamdulillah, sampai sekarang jika dihitung totalnya ada 600 ekor kambing dari 20 ekor kambing awal,” ungkap Agus.

“Modal awal Rp25 juta dan jika diuangkan, berarti uda Rp500 juta yang dihasilkan dari program ternak kambing. Dari awal ternak kambing inilah, kemudian uang modal mereka kembali dan uangnya dikelola oleh kelompok dan digulirkan lagi untuk program atau kegiatan yang lain, seperti makanan olahan dan juga modal usaha lainnya,” tegasnya.

Dari Tukang Becak Menjadi Penjahit

Seiring waktu berjalan, beberapa anggota pun bukan hanya bisa beternak kambing. Ada salah satu anggota yang sudah mempunyai usaha menjahit, yang merupakan hasil dari ternak kambing.

Dari Kebersamaan Menghadirkan Konsistensi Menjalankan Program Pemberdayaan Ternak Kambing

“Ini menjadi hal yang menarik, karena ada anggota kelompok yang setiap harinya bekerja sebagai tukang becak di Malioboro, dengan hasil yang tak menentu. Kemudian beliau berhenti jadi tukang becak untuk merintis usaha di rumah, kalau enggak salah usahanya jadi tukang jahit. Alhamdulillah dari kelompok ternak kambing ini bisa menjadi modal usaha,” cerita Agus.

Tak hanya sebatas itu, anggota juga bisa memperluas usaha tani mereka. Berawal dari peternakan kambing, kemudian makanan olahan pertanian modal usaha untuk usaha UMKM yang sekarang. Saat ini para anggota sudah memulai ke kelompok itu.

“Perkembangannya cukup luar biasa. Bahkan ada yang memanfaatkan (hasil ternak kambing ini) untuk menikahkan anaknya dari dana kelompok itu,” terangnya.

Kunci Menjaga Konsistensi

Tiap kali ada momen perayaan Idul Adha yang berujung pada pemotongan hewan kurban, Dusun Singkil kerap hanya menjadi penonton. Tak ada kegiatan pemotongan hewan kurban. Kalau pun ada, di luar dusun tersebut, sebab dusun tersebut hanya memasok hewan kurban saja.

Mulai 2015, di dusun itu perayaan idul adha terasa berbeda. Selain salat ied, warga sibuk dengan pemotongan hewan kurban. Pasalnya, mulai banyak warga Dusun Singkil yang berkurban.

Kegiatan Harian di Kandang

“Sejak mulai ada kelompok ternak ini kesadaran warga untuk melakukan kurban itu luar biasa. Mereka tiba-tiba datang membawa kambingnya untuk dikurban, terakhir makin banyak yang mengurbankan kambingnya saat Idul Adha,” jelas Agus.

“Salah satu kuncinya hingga menjadi sedampak ini adalah kebersamaan, mereka punya rasa memiliki, mereka punya rasa tanggung jawab, mereka punya rasa untuk membesarkan kelompok. Nah ini yang selalu menguatkan dan terus ada pertemuan rutin setiap bulan dari 2014 hingga sekarang itu pertemuan terus berlanjut secara rutin,” sambungnya.

Bukan Sekadar Berqurban

Tentunya ini menjadi momen buat kita untuk bisa saling berbagi saat perayaan Idul Adha. Dalam artian, dalam berqurban saat perayaan Idul Adha, kita bukan hanya sebuah amalan untuk mengganti ibadah haji selagi kita tak mampu, tetapi sekaligus memberdayakan peternak. Dengan berqurban melalui Human Initiative, juga menjadi momen mendukung dan menguatkan para peternak.

Telebih di Human Initiative, distribusi penyaluran hewan qurban merujuk pada program 3T yaitu ke daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Demi menghasilkan pemerataan pembagian hewan qurban ke masyarakat yang sulit terjangkau.

Sahabat Inisiator Butuh Bantuan?

Telp/Whatsapp

+62-812-8080-4561