Mbak Atin, Menjadi Bagian dari Rantai Kebaikan

Mbak Atin, Menjadi Bagian dari Rantai Kebaikan

12 Oktober 2021

Kehadiran relawan aktif di tengah kehidupan bermasyarakat menjadi salah satu kunci paling penting. Relawan atau orang-orang yang tanpa pamrih bersedia mengabdi secara ikhlas. Tidak digaji, tidak mengharapkan imbalan, telah membuktikan bahwa di dunia ini masih ada orang-orang yang peduli. Banyak yang meski hidup dalam kesederhanaan tetap memikirkan dan mencoba memberikan kontribusi kepada lingkungannya.

Hal inilah yang selama ini dilakukan Mbak Atin. Beliau merupakan relawan aktif yang giat berkegiatan di wilayah tempat tinggalnya, Girimulyo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Walau sudah menjadi ibu dari dua orang anak, Mba Atin tetap aktif melakukan kegiatan sosial.

Ia mulai terjun ke dalam dunia ini sejak masih duduk di bangku SLTA. Mbak Atin yang tergabung dalam majelis taklim dan menempati bidang dana sosial mengharuskannya untuk pergi memberikan bantuan dan mengunjungi daerah pelosok. Saat melakukan hal tersebut, ia menyadari bahwa membantu orang lain memberikan kebahagiaan tersendiri. Berawal dari kegiatan inilah hingga saat ini Mba Atin masih aktif memberikan dedikasi nya kepada masyarakat.

Tahun 2013 beliau bergabung menjadi bagian dari relawan Human Initiative dengan bentuk kegiatan saat itu adalah pemberian santunan untuk anak yatim. Walau sulit bahkan mungkin rumit, selalu ada kenikmatan dan kebahagiaan sendiri saat ia bisa menolong orang lain.

Dalam fokusnya pada bidang kerelawanan, dia adalah spesialis di bidang pendidik, khususnya untuk anak dengan usia 4-6 tahun. Ia menstimulasi perkembangan anak, melakukan kegiatan pembelajaran, permainan, serta mengenalkan anak-anak kepada Allah SWT.

Saat ini, ia fokus pada kegiatan sosial di dareah Kulon Progo. Tepatnya pada salah satu kecamatan yaitu Girimulyo yang terdiri dari empat desa.

Tantangan Mbak Atin Menjadi Relawan Aktif

Saat ditanya mengenai tantangan berkegiatan, ia menceritakan bahwa dirinya adalah istri dari seorang kepala dukuh. Secara tidak langsung ia kini juga menjadi orang tua bagi masyarakat. Apabila terdapat kiriman bantuan dan ternyata jumlah paket terbatas, ia harus mencari cara untuk membaginya secara adil serta menanamkan pemikiran bahwa rezeki datang nya dari Allah. Selain tantangan untuk berhadapan dengan masyarakat, lokasi medan kegiatan yang terkadang berjauhan, kondisi jalanan, sulitnya koordinasi, serta kontur pegunungan membutuhkan segala persiapan yang kompleks.

Saat terjadi bencana longsor dan pohon tumbang, Mba Atin turut terjun ke lapangan untuk membantu para terdampak. Melihat betapa orang-orang yang terdampak bencana itu bisa tetap tabah setelah mendapatkan cobaan, Mba Atin merasa sangat tersentuh dan terkesan dengan mereka. Seorang anak bernama Satrio yang tinggal bersama mbahnya juga menjadi perhatiannya, pasalnya dengan kondisi tidak bisa bangun dan tidak bisa bicara, Satrio belum terdaftar dalam daftar penerima bantuan karena kehabisan kuota.

Untuk teman-teman yang ingin ikut berperan dalam kegiatan kerelawanan, Mbak Atin berpesan untuk menyiapkan fisik, ruhiyyah, serta motivasi yang kuat, karena apabila kita mendapat amanah untuk pergi ke suatu tempat yang menguras tenaga, waktu, pikiran, dan materi, secara fisik dan mental kita sudah siap, sedangkan motivasi membuat seorang relawan tidak mudah mengeluh.

Semoga lewat kisah ini, teman-teman ikut tergerak untuk berkiprah di dunia ini sehingga bisa merasakan kebahagiaan ketika membantu banyak orang. Ayo bergabung jadi bagian dari rantai kebaikan dengan menjadi relawan Human Initiative melalui website HIVE.

Sampai bertemu di kegiatan selanjutnya Sahabat Inisiator.

Sahabat Inisiator Butuh Bantuan?

Telp/Whatsapp

+62-811-9342-667