Perjuangan Relawan dan Harapan Baru Pasca Gempa Majene

Perjuangan Relawan dan Harapan Baru Pasca Gempa Majene

8 Maret 2021

Gempa bumi mengguncang Kabupaten Majene pada Kamis 14 Januari 2021 pukul 13.35 WITA. Gempa yang berkekuatan magnitude 5,9 itu tak ayal terasa hingga ke Kota Makassar.

Tim Emergency Response Human Initiative Sulawesi Selatan yang berlokasi di Makassar, langsung melakukan rapat untuk merencanakan keberangkatan ke lokasi gempa, sembari menentukan lokasi mana yang akan dituju. Tak kurang dari 24 jam usai terjadinya gempa, tim yang diketuai Hamka Abdi Kusuma, langsung berangkat menggunakan mobil rescue pada Jumat 15 Januari pukul 10 pagi WITA.

“Dari awal pemberangkatan memang sudah mencekam. Karena dari jalan ke Majene sampai perbatasan, saya dan tim sudah was-was,” ujar Hamka, selaku Kepala Bidang Pendayagunaan Human Initiative Sulawesi Selatan.

Suasana mencekam itu datang ketika Hamka dan keempat temannya menyusuri jalan Poros Majene-Mamuju, tepat pada malam hari. Seperti diketahui, jalan Poros tersebut menyusuri pinggir laut.

“Saat itu air laut sedang pasang, sehingga banyak air yang terbawa ombak hingga ke bahu jalan. Belum lagi hujan deras yang kian membuat perjalanan kami kian dirasuki rasa khawatir,” terang Hamka.

Melewati 4 Titik Longsor

Hambatan lain yang dialami Hamka beserta kawannya, adalah jalan yang dilalui juga harus melewati empat titik lokasi yang baru saja longsor. Beruntung, berhasil dilalui mereka dengan selamat.

“Yang menjadi tantangan buat kami itu, karena sepanjang perjalanan kami melewati empat titik longsor. Di mana empat titik longsor itu baru saja terjadi, meskipun tidak ada korban jiwa di empat titik longsor tersebut,” terang pria kelahiran Tamajannang, Kab. Gowa ini.

Rintangan yang dialami Hamka cs tak sampai di situ, akses jalan tertutup, tepatnya di Jembatan Kuning perbatasan Majene-Mamuju. “Kami memutuskan singgah di Kapolsek Malunda pukul 11 malam WITA untuk rehat sejenak menenangkan diri sambil berdiskusi, lagi pula kami belum tahu medan benar dan kondisi juga sedang mati lampu,” jelas Hamka.

Jaringan seluler yang kurang bagus juga menambah kesulitan tim untuk mencari informasi terkini terkait akses menuju tempat gempa. Akhirnya tim mencari informasi kepada warga sekitar yang memang kebetulan sedang berada di luar, lantaran masih siaga akan gempa susulan.

“Dari informasi warga akhirnya kami ditunjukkan satu lokasi yaitu di Desa Kayu Angin,” jelas Hamka.

Tidur Beralaskan Genangan Air

Singkat cerita, sesampainya di Desa Kayu Angin, tim mendapat sambutan mengharukan oleh warga yang terdampak gempa. Kondisi di pengungsian yang bisa dibilang ala kadarnya itu, sangat memprihatinkan.

“Kondisi di sana membuat kami sedih dengan melihat masyarakat yang berada di tenda. Mereka di tempat pengungsian dengan kondisi tergenang air sampai tumit, dan anak-anak yang ada di tenda itu, mereka terpaksa tidur dalam keadaan tergenang air,” tutur Hamka.

Tak ingin melihat penderitaan para penyintas terlalu lama, tim langsung membuka dapur air dan mobile charging. Walau, kondisi Tim Emergency Response Human Initiative masih lelah usai perjalanan panjang selama 12 jam lebih dari Makassar menuju Majene.

“Kami membuka dapur air untuk memberikan kehangatan kepada masyarakat. Karena waktu itu hujan deras dan mereka membutuhkan air hangat. Dan, dapur air yang kami bangun malam itu disambut antusias oleh masyarakat, banyak sekali pengungsi yang menikmati waktu itu. Termasuk ibu-ibu yang ingin membuat susu untuk anaknya,” ungkap Hamka.

Keesokan paginya, sebagian tim dalam kondisi demam usai melewati malam yang diguyur hujan deras, dan istirahat pun cuma dua jam. Namun, semangat Hamka cs tetap membuka program Layanan Kesehatan tak pernah luntur.

“Menariknya, saat kami sedang membuka layanan Kesehatan, salah satu dari pasien yang akan berobat itu adalah kepala Puskesmas. Padahal kami sempat bertanya, di mana Puskesmas setempat, tapi nyatanya kepala puskesmas ikut antri memeriksa kondisinya,” cerita Hamka.

Human Initiative yang Pertama Tiba di Lokasi Gempa

Kabupaten Majene merupakan daerah pegunungan. Datangnya gempa membuat beberapa daerah terisolir sehingga akses ke beberapa desa menjadi sulit untuk dijangkau.

Alhamdulillah, Tim Emergency Response Human Initiative yang diketuai Hamka ini, berhasil mencapai salah satu desa terisolir, yaitu Desa Bambangan. Luar biasanya, Human Initiative menjadi Lembaga Kemanusiaan pertama yang sampai di daerah tersebut. Perlu diketahui, Desa Bambangan sendiri merupakan episentrum dari gempa kedua yang terjadi pada Jumat 15 Januari 2021.

Inisiatif yang dilakukan tim adalah membuka dapur air dan layanan mobile charging. Menariknya, para warga lebih dulu menyerbu mobile charging ketimbang menghangatkan badan mereka dengan fasilitas dapur air.

“Mobile charging sangat dibutuhkan sekali, sebab listrik terputus sehingga warga ingin mengabarkan kerabat mereka secepatnya. Setidaknya ada ratusan warga yang menyerbu. Untuk mengantisipasi agar tidak chaos, dari sambungan genset yang dibawa, kemudian disambung lagi hingga berakar,” jelas Hamka.

Dari situasi tersebut, Hamka mencoba mengambil pelajaran ketika ia bertugas pada bencana gempa di Palu beberapa waktu lalu. Bahwa pada saat genting seperti saat itu, listrik memang dibutuhkan.

Perlahan Bangkit

Memasuki pekan ketiga pasca gempa, warga telah kembali bertani dan berkebun seperti sedia kala. Terutama pada warga yang tinggal di Kecamatan Malunda dan Ulu Manda.

Hanya saja yang menjadi kendala di Kecamatan Malunda, tidak ada warga yang pergi melaut. Mereka enggan pergi melaut karena mereka masih mendapatkan sembako dari Lembaga lain. Sehingga Kembali melaut dinilai bukan pilihan penting kala itu.

Imbasnya, banyak warga yang ada di pegunungan itu tidak bisa mengonsumsi ikan. Sebab rata-rata penjual ikan tidak sampai ke atas lagi, di samping itu nelayan juga enggan melaut.

Masalah lain, banyak juga warga yang sakit diare, karena mereka hanya mengonsumsi mie instan. Padahal makanan tersebut tidak direkomendasikan untuk warga yang terdampak gempa.

“Kalau gempa bumi itu, biasanya alat dapur warga masih bisa dipergunakan. Untuk itu, bantuan beras sangat direkomendasikan, selain itu lauknya berupa telur, sosis, abon, dan ikan kaleng. Sementara sayuran seperti kol, wortel, dan kentang juga sangat dibutuhkan, apalagi sayuran-sayuran tersebut bisa bertahan hingga satu minggu,” jelas Hamka.

Rumah Senyum

Photo : Human initiative volunteers are in discussion with one of the beneficiaries of Rumah Senyum.

Sementara itu Hamka bersama tim mulai melakukan perubahan bantuan. Warga tampaknya lebih membutuhkan hunian sementara. Sebab, rumah mereka masih rentan hancur digoyang gempa.

“Fokusnya ke depan, kami akan membangun hunian sementara atau Rumah Senyum, karena ini recommended sekali. Di Majene sendiri dari segi infrastruktur rumah warga masih banyak yang berdiri, hanya saja sangat berisiko karena rumahnya retak cukup besar. Ada gempa sedikit saja, maka berisiko roboh. Nah masyarakat saat ini masih banyak yang tinggal di tenda pengungsian,” jelas Hamka.

Namun karena jumlah tim yang masih terbatas, lalu di satu sisi banyak yang membutuhkan hunian sementara, maka tim hanya membuat Rumah Senyum untuk Kelompok Berisiko.

“Sejatinya rumah senyum dibangun untuk satu keluarga, namun khusus untuk di Majene, banyak yang membutuhkan Rumah Senyum, sementara tim jumlahnya masih terbatas, untuk itu kami melihat penerima bantuan dari kelompok risiko,” jelas Hamka.

“Kami mengklasterkan beberapa pengungsi yang terdapat kelompok rentan di dalamnya. Klasifikasinya itu yang pertama ibu Hamil dan Menyusui, Lansia, Kelompok Disabilitas. Kelompok itu menjadi prioritas kami untuk membuka rumah senyum,” Pungkasnya.

Sahabat Inisiator Butuh Bantuan?

Telp/Whatsapp

+62-811-9342-667