Di usia sekitar 75 tahun, Mbah Sudar masih tinggal di sebuah rumah sederhana di Sawangan, Magelang. Ia hidup bersama anak dan cucunya. Hari-harinya dijalani dengan tenang, meski serba terbatas.
Relawan Human Initiative, Ustadz Salaman Al-Jugjawi, menemuinya dalam rangka sebar qurban dan bantuan kemanusiaan ke daerah pelosok. Di tengah obrolan hangat, Mbah Sudar mengaku sudah lama tak makan daging.
“Terakhir ya waktu Lebaran kemarin,” katanya sambil tersenyum kecil.
Bukan karena tak suka justru sebaliknya, daging bukan makanan yang mudah ia temui. Maka, Idul Adha menjadi momen yang selalu ditunggu. Bukan hanya karena ada daging qurban, tapi karena satu hal yang paling ia rindukan: kumpul keluarga.
“Kalau ditanya apa yang paling saya ingat pas qurban… ya itu, bisa kumpul keluarga,” ujarnya pelan.
Di balik kesederhanaannya, Mbah Sudar mengajarkan kita bahwa qurban bukan hanya tentang hewan dan daging. Tapi tentang rasa syukur, tentang kebersamaan, dan tentang harapan yang datang dari tangan-tangan dermawan yang tak pernah ia kenal.
Program sebar qurban dan bantuan kemanusiaan bukan hanya membawa daging ke pelosok. Ia membawa kembali senyum, kehangatan, dan harapan.
Tahun ini, mari bahagiakan lebih banyak Mbah Sudar di luar sana. Qurbanmu bisa menjadi bagian dari cerita mereka—cerita tentang berkah yang tak hanya sampai di meja makan, tapi juga menyentuh hati mereka yang nyaris terlupa.
Sahabat Inisiator, masih ada kesempatan untuk berqurban di penghujung waktu tasyrik. Yuk hadirkan kebahagiaan lewat daging qurban untuk mereka yang jarang merasakannya. Langsung saja ke:
👉 solusipeduli.org/qurban
#SebarQurban #Salingmenguatkan #HumanInitiative