Nirina Tak Pernah Berjumpa dengan Cinta Pertamanya

Nirina Tak Pernah Berjumpa dengan Cinta Pertamanya

12 Januari 2022

Anak perempuan kelas 5 SD ini ternyata tak seceria yang dikira. Hatinya memendam kepiluan yang sudah Ia kubur nyaris sepanjang usianya, dan tak tahu sampai kapan lagi. Setiap hari terus menerus mengikis hatinya sampai terkadang hanyut terbawa rasa pilu yang waktu-waktu bisa meledak. Nirina namanya. Anak kedua sekaligus bungsu yang lahir di desa Girimulyo, Kab. Kulon Progo ini ternyata juga memiliki darah Medan, Sumatera Utara. Katanya, sang Ibu menikah dengan sang Ayah yang merupakan orang Medan. Lalu lahirlah Ia dan Kakak laki-lakinya yang kini duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Pertama.

Nirina tinggal bersama Ibu yang merupakan seorang pengrajin makram (keranjang) dari anyaman bambu. Setiap hari ia membantu Ibunya memasukan benang ke dalam jarum, karena mata sang Ibu sudah lawas atau tua. Kepada tim Human Initiative, ia mengungkapkan bahwa sang Ibu sudah seperti wonder woman karena bisa mengurusnya, Kakak, dan Kakeknya seorang diri. Ya, Nirina juga tinggal besama sang Kakek di rumah yang kebetulan karena usianya rentan, tidak lagi bekerja.

 

Tak Pernah Berjumpa dengan Cinta Pertamanya

Kehidupan ini membuatnya tumbuh menjadi lebih dewasa dari pada teman-teman seusianya. Sebab, ia lebih memilih menghabiskan waktu di rumah membantu Ibunya, daripada menghabiskan waktu bermain bersama teman-teman. Ia sadar tidak terlahir dari keluarga yang sempurna, yang memiliki Ayah sebagai tumpuan di dekatnya.

Ada nafas panjang ketika Nirina menyampaikan satu harapan dan keinginan terbesar dalam hidupnya, yang sampai hari ini belum pernah terwujud. “Nirina pengen ketemu Ayah” suaranya bergetar, kemudian tak lama air matanya tumpah. Kini, kepiluan itu akhirnya meledak, tak bisa dibendung lagi, dan menyadarkan betapa rapuhnya Nirina sebenarnya.

Sejak Nirina lahir sampai hari ini, ia tak pernah bertemu sang Ayah, tak pernah melihat bagaimana sih wujudnya. Nirina hanya pernah mendengar suara sang Ayah melalui telepon, dengan jarak beratur kilometer, ia pun tak bisa membayangkan bagaimana ya suara asli sang Ayah. Apakah sama atau berbeda jika mengobrol secara langsung tanpa ada jarak yang memisahkan.

Ibunya mengatakan bahwa sang Ayah belum bisa pulang karena harus mencari nafkah di Kalimantan sebagai kuli petani sawit. Nirina tak tau kapan Ayahnya bisa pulang dan bertemu dengannya. Apakah sang Ayah itu ingin bertemu dengan dirinya atau memang sebenarnya tak ingin bertemu dengan Nirina.

Banyak sekali hal yang ingin ia tanyakan kepada Ayah, Namun selalu ia simpan dan ia berniat menanyakannya ketika bertemu. Meskipun ia tak tau, waktunya kapan. Yang jelas, ia percaya hari itu akan datang. Ayah akan hadir dan tinggal bersamanya selamanya. Ia sangat menyayangi sang Ayah meskipun belum pernah bertemu, tapi ia yakin bahwa hatinya menyayanginya tanpa Nirina mengerti alasan kenapa bisa sayang padahal belum bertemu.

Nirina juga berjanji kepada dirinya sendiri, kalau ia akan menjadi anak perempuan yang kuat dan berhasil meraih cita-citanya sebagai Atlet Voli agar bisa memiliki banyak uang serta membawa Ayahnya kembali pulang ke rumah.

Sahabat Inisiator Butuh Bantuan?

Telp/Whatsapp

+62-811-9342-667